Tampilkan postingan dengan label Big Project. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Big Project. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Maret 2010

Supervision

UJIAN AKHIR SEMESTER

Mata Kuliah : Teknik Supervisi (TES)

Jurusan / Program Studi : Hospitaliti / Administrasi Perhotelan

Kelas / Semester : C / semester

Nama : Made Handijaya Dewantara

NIM : 07102080

No. absen : 17

Soal : berdasarkan nomor absen (17), maka saya wajib menjawab NO. 2, 5, dan 7

2. Bagaimana cara saya memberhentikan seorang sahabat atau kawan lama? Apa yang harus saya katakan padanya dan bagaimana cara saya mengatakannya?

Uraian Masalah :

Sahabat atau kawan lama yang menjadi bawahan saya memiliki kinerja yang sangat buruk di dalam operasional front office, sehingga sebagai penyelia, demi jalannya roda bisnis perusahaan, saya diminta untuk memberhentikan sahabat saya ini. Masalah timbul akibat adanya kesenjangan antara harapan saya untuk memberhentikan sahabat saya demi bisnis hotel dan kenyataan kami sebagai sahabat karib satu sama lain. Maka dari itu, diperlukan strategi, baik dalam langkah maupun pemilihan kalimat ketika melakukan proses pemberhentian tersebut.

Konsep teori :

Melihat permasalahan seperti ini, saya harus mengaca pada dua sudut pandang yaitu sudut pandang kemanusiaan, dan sudut pandang bisnis ekonomi. Akan tetapi, sebelum menuju kepada sudut pandang akademis, maka yang patut dicermati adalah alasan-alasan yang paling mungkin yang menyebabkan bawahan saya (sekaligus sahabat saya) itu pantas dan harus diberhentikan. Menurut www.hukumpedia.com, PHK adalah pengakhiran hubungan kerja karena suatu hal tertentu yang mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antara pekerja dan pengusaha. Alasan-alasan terjadinya sebuah pemberhentian atau pemutusan hubungan kerja menurut UU No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan antara lain karena :

Kembali ke dua sudut pandang yang harus dicermati di sini adalah sudut pandang kemanusiaan dan sudut pandang bisnis perusahaan. Dari segi sudut pandang kemanusiaan, terdapat beberapa hal yang akan terjadi apabila sebuah perusahaan memberhentikan karyawannya. Dampak yang akan muncul adalah sebagai berikut, berdasarkan sumber departemen sosial Republik Indonesia.

a. Meningkatnya taraf pengangguran yang akan semakin melemahkan kondisi perekonomian negara keseluruhan.

b. Mengakibatkan terganggunya kondisi keuangan keluarga secara mendadak yang akan berpengaruh pada kejiwaan masing-masing anggota keluarga.

c. Menurunkan motivasi anak-anak karyawan yang bersangkutan untuk melaksanakan aktivitas sebagaimana biasa.

d. Meningkatnya angka kejahatan secara lokal maupun global

e. Menurunkan taraf hidup keluarga karyawan yang diberhentikan terlebih apabila ia adalah tulang hidup keluarga.

Akan tetapi, dibalik aspek kemanusiaan yang patut dicermati, kondisi bisnis perusahaan juga harus diperhatikan apabila karyawan yang sudah pantas diberhentikan tetap tidak diberhentikan. Berikut adalah hal-hal yang akan terjadi di perusahaan apabila seorang karyawan yang harus diberhentikan tetap diberikan toleransi, berdasarkan Majalah Times edisi Agustus 2008.

a. Memperparah kondisi global keuangan perusahaan yang akan bisa berujung pada penutupan perusahaan.

b. Meningkatnya kemungkinan pemberhentian karyawan dari semula satu menjadi lebih dari satu.

c. Menularnya sikap-sikap indisipliner dari karyawan yang harus diberhentikan ke rekannya yang lain.

d. Terganggunya operasional kerja perusahaan sehari-hari akibat keinginan mempertahankan seorang karyawan.

Alternatif Solusi :

Proses memberhentikan seorang karyawan, terlebih adalah seorang sahabat merupakan opsi yang paling akhir yang saya ambil sebagai penyelia di front office. Selain akan berdampak pada peningkatan jumlah pengangguran, secara kemanusiaan, pemberhentian akan menyebabkan turunnya tingkat penghidupan karyawan yang bersangkutan secara drastis. Akan tetapi, bisnis di hotel yang notabene berbintang lima harus dijalankan secara profesional dan dipisahkan dengan kepentingan pribadi apapun. Akan tetapi, khusus untuk memberhentikan karyawan yang bekas sahabat saya, saya memiliki sembilan strategi berangkat dari konsep sebelumnya dan pandangan pragmatis lainnya.

1. Memeriksa masukan yang saya berikan selama ini

Jika selama ini saya memberikan pujian kepada kinerjanya dan menaikkan gajinya setiap tahun, tentu ia akan terkejut jika saya mengatakan akan memecat dia. Jika selama ini signal positif selalu diberikan kepadanya, pemberhentian tidak dapat dilakukan secara langsung. Hal yang dilakukan adalah mengubah signal dengan penunjukan-penunjukan dan membiarkan dia tahu bahwa dia tidak dalam posisi nyaman lagi.

2. Memberinya peringatan terlebih dahulu

Saya akan memanggil si karyawan dan duduk dalam ruangan saya, sekaligus menjelaskan padanya bahwa saya tidak gembira dengan kinerjanya. Saya akan memberi dia waktu tertentu (misalnya 30 hari) untuk mengubah keadaan. Apabila tidak ada perubahan, saya akan memberhentikannya segera. Saya juga akan menyiapkan memo untuk merinci apa yang saya katakan kepadanya.

3. Memfokuskan pada perilaku tertentu

Saya akan menjelaskan kepada karyawan mengenai daftar perilakunya yang tidak dapat saya terima, dan katakan kepadanya apa yang harus ia lakukan untuk bisa kembali menjadi baik. Walaupun ia teman baik saya, saya tidak akan menerima bentuk perdebatan semua hal yang saya agendakan.

4. Memberhentikan dia pada awal pekan , tidak di akhir pekan

Setelah saya beri kesempatan ia untuk memperbaiki diri dan ternyata ia tidak melakukan hal yang saya katakan, maka saya akan memberhentinya. Memberhentikan di akhir pecan sakan membuat ia cepat marah sebab di akhir pekan kondisi psikologisnya sedang suntuk dan uring-uringan.

5. Mengatakan dengan singkat, halus dan to the point

Oleh karena yang saya hadapi adalah teman saya, maka saya akan mengantisipasi emosi karyawan tersebut dengan sarana dan saksi selama pertemuan. Proses ini juga diikuti dengan langkah-langkah sebagai berikut.

  • mengatakan kepada sang karyawan bahwa ia telah diberhentikan dan mulai tenggat waktu pertemuan.
  • Menerangkan bahwa dia diberhentikan karena ada sebabnya, tanpa memberitahu rinciannya. Sebab, saya tidak perlu memulai perdebatan. Dia tidak mencapai tujuan yang saya inginkan darinya berdasarkan peninjauan kinerja terakhir. Jika dia masih berkeberatan dan menjurus defensif, saya katakan “Maaf, keputusan saya sudah bulat“.
  • Menerangkan berapa pesangon yang tersedia baginya serta tunjangan-tunjangan lain yang menjadi haknya
  • Menerangkan kepadanya apa yang akan saya katakan jika suatu saat saya diminta memberi referensi kerja tentangnya.

6. Meminta surat pengunduran diri dan memberinya insentif untuk menandatanganinya

Surat-surat seperti ini diperlukan sebagai antisipasi proses hukum yang terjadi kemudian.

7. Tidak membiarkannya menunda-nunda

Jika tidak ada alasan membiarkan sang karyawan menyelesaikan tugasnya, saya akan memintanya untuk segera meninggalkan kantor saya. Saya akan memastikan ada orang mendampinginya meninggalkan pintu kantor saya untuk menghindari dia mengambil data penting atau aset lain.

8. Segera mencari pengganti karyawan tersebut

Segera sesudah sang karyawan berhenti bekerja, saya akan menempatkan karyawan lain menggantikannya. Untuk menghindari adalanya rumor atau gosip tidak sedap terutama dari sang karyawan yang telah diberhentikan itu, saya akan memberikan alasan pemberhentian tersebut.

9. Menyelesaikan persoalan sampai tuntas

Hal paling buruk yang mungkin dapat terjadi dengan mempertahankan karyawan yang mudah marah, emosional dan suka merusak adalah tetap mempertahankannya. Membiarkan dia tetap ada di perusahaan saya akan memperburuk suasana kerja, dan berpengaruh secara umum bagi produksi atau hasil yang ingin dicapai.

5. Bagaimana cara saya menangani seseorang pegawai, yang dalam memperjuangkan kenaikan pangkat dan jabatannya, terlalu melebihlebihkan dirinya?

Uraian masalah :

Pegawai bawahan saya memiliki perangai yang terlalu melebih-lebihkan dirinya. Hal ini sangat menghambat perjuangan kenaikan pangkat dan jabatan. Masalah timbul dari sebuah kesenjangan antara harapan karyawan tersebut dalam mendapatkan kenaikan jabatan dan kenyataan bahwa ia terlalu membangga-banggakan dirinya. Sebagai seorang penyelia, saya harus mencari strategi untuk mendapatkan win-win solution dengan satu tujuan demi kemajuan bisnis di departemen saya.

Konsep teori :

Sebelum melangkah kepada solusi, yang patut diperhatikan adalah alasan-alasan mengapa karyawan tersebut bersifat selalu melebih-lebihkan dirinya. Terdapat berbagai macam kemungkinan faktor penyebab mengapa seorang karyawan terlalu melebih-lebihkan dirinya. Berikut faktor-faktor penyebabnya berdasarkan sumber jurnal Sjafri Mangkuprawira dengan judul “Bagaimana Memotivasi Karyawan” :

a. Karyawan tersebut merasa bahwa dirinya yang paling pandai dan paling mampu dalam menyelesaikan seluruh pekerjaan.

b. Karyawan tersebut merasa bahwa rekan kerjanya yang lain akan malah membuat ia makin sulit bekerja sebab kompetensi di antara mereka sangat jauh berbeda.

c. Karyawan tersebut merasa paling penting namun dalam bekerja terasa kurang sabar, aneh, dan bahkan kurang meyakinkan.

d. Karyawan tersebut terlalu senang berpikir untuk menjalankan fungsi kerjanya dan lebih cenderung untuk tidak fokus pada pekerjaannya.

e. Karyawan tersebut menggunakan landasan subjektif untuk memberikan penilaian tentang dirinya.

f. Karyawan tersebut memiliki motivasi paling tinggi di antara sesama rekan kerjanya.

Karyawan yang pantas untuk dipromosikan untuk kenaikan jabatan berdasarkan.

Untuk memahami dan menangani karyawan yang selalu melebih-lebihkan dirinya, perlu dipelajari mengenai psikologi karyawan khususnya demi pemerataan kualitas karyawan. Hal yang terjadi pada karyawan tersebut adalah lebihnya kualitas keterampilan psikomotor. Kawasan psikomotor yaitu kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yangmelibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular system) dan fungsi psikis. Kawasan ini terdiri dari : (a) kesiapan (set); (b) peniruan (imitation); (c) membiasakan (habitual); (d) menyesuaikan (adaptation) dan (e) menciptakan (origination).

Kesiapan yaitu berhubungan dengan kesediaan untuk melatih diri tentang keterampilan tertentu yang dinyatakan dengan usaha untuk melaporkan kehadirannya, mempersiapkan alat, menyesuaikan diri dengan situasi, menjawab pertanyaan.

Meniru adalah kemampuan untuk melakukan sesuai dengan contoh yang diamatinya walaupun belum mengerti hakikat atau makna dari keterampilan itu. Seperti anak yang baru belajar bahasa meniru kata-kata orang tanpa mengerti artinya.

Membiasakan yaitu seseorang dapat melakukan suatu keterampilan tanpa harus melihat contoh, sekalipun ia belum dapat mengubah polanya.

Adaptasi yaitu seseorang sudah mampu melakukan modifikasi untuk disesuaikan dengan kebutuhan atau situasi tempat keterampilan itu dilaksanakan.

Menciptakan (origination) di mana seseorang sudah mampu menciptakan sendiri suatu karya (Ahmad Sudrajat, Taksonomi Perilaku Individu).

Gary Dessler, pakar manajemen sumber daya manusia menyebutkan ada beberapa faktor penyebab karyawan dipromosikan. Apabila mengacu pada kasus yang terjadi pada karyawan saya, pandangan Dessler patut dijadikan pertimbangan. Menurut Dessler, ada beberapa faktor yang menjadi acuan manajemen untuk mempromosikan seorang karyawan.

a. Kualifikasi Kinerja Karyawan : karyawan yang dipandang memenuhi kualifikasi kinerja adalah karyawan yang mampu mencatat nilai memuaskan pada penilaian kinerja.

b. Kepemimpinan Karyawan : karyawan yang memiliki banyak kompetensi tidak otomatis memperoleh promosi atau kenaikan jabatan. Sebagai calon pemimpin, karyawan tersebut juga harus memiliki jiwa kepemimpinan sebab makin tinggi pangkat, wewenang kepemimpinannya pun makin besar.

c. Mundurnya karyawan lama : hal yang harus terjadi dalam sebuah promosi adalah lowongnya posisi yang harus diisi. Lowongnya posisi ini antara lain disebabkan oleh mundur atau pensiunnya karyawan sebelumnya.

d. Keinginan untuk belajar : karyawan yang pantas dipromosikan adalah karyawan yang memiliki keinginan lebih untuk belajar atau tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya sekarang.

Alternatif solusi :

Karyawan yang selalu melebih-lebihkan dirinya harus saya ditangani sebagai tugas saya sebagai penyelia di departemen front office. Untuk menangani karyawan seperti dibutuhkan kiat atau strategi-strategi agar operasional perusahaan tetap bisa berjalan dengan baik bahkan lebih efektif. Selain itu strategi yang saya jalankan juga akan membuka kesempatan bagi karyawan tersebut untuk mendapatkan promosi kenaikan pangkat atau jabatan. Berikut strategi-strategi tersebut saya uraikan baik berdasarkan pandangan pragmatis maupun sisi akademis.

a. Memanfaatkan kemampuan lebih karyawan saya yang suka melebih-lebihkan dirinya khususnya dalam membantu operasional kerja saya sebagai penyelia.

b. Selalu berkonsultasi dengan manajer departemen front office untuk melihat perkembangan pekerjaannya apakah apa yang ia lebih-lebihkan memang berguna demi operasional departemen saya atau malah merugikan.

c. Bersama-sama dengan departemen human resources merencanakan jenis pekerjaan yang paling tepat atau bahkan perpindahan departemen bagi karyawan tersebut sehingga di tempat itulah karirnya akan cepat menanjak.

d. Merancang program pelatihan dan pengembangan bagi karyawan tersebut sehingga kemampuan lebihnya bisa dimiliki oleh karyawan departemen lainnya.

e. Melaksanakan penilaian kinerja secara berkala dan mengajaknya untuk bertemu apabila apa yang ia lebih-lebihkan ternyata berbanding terbalik dengan hasil penilaian kinerja kepadanya.

f. Membaurkan karyawan tersebut dan memintanya untuk berbicara pada forum-forum pelatihan di hotel agar karyawan yang lain merasakan potensi dalam dirinya.

Sebagai seorang penyelia, saya harus tetap membiarkan keragaman tumbuh di lingkungan kerja saya di departemen front office. Termasuk dalam menangani karyawan saya yang suka melebih-lebihkan dirinya, hal ini harus diatasi dengan membiarkannya tumbuh namun dengan kontrol dan di posisi yang sesuai. Dengan strategi-strategi di atas, yang diharapkan tentunya tiga hal. Pertama, operasional departemen front office yang memuaskan. Kedua, kesempatan promosi dan kenaikan jabatan karyawan makin membesar. Dan ketiga, majunya bisnis hotel secara keseluruhan.

7. Bagaimana cara saya mengilhami seorang bawahan yang baik tapi kurang mempunyai rasa percaya diri?

Uraian Masalah :

Masalah yang terjadi dalam kasus ini adalah kesenjangan antara keinginan saya untuk mengilhami seorang bawahan saya demi majunya operasional departemen front office dan kenyataan kurangnya rasa percaya diri yang ada dalam diri bawahan tersebut. Masalah ini harus diselesaikan segera sebab di departemen front office, sebagai departemen pertama yang menyambut tamu, kepercayaan diri mutlak diperlukan. Untuk mengatasi masalah tersebut, langkah yang diperlukan adalah menumbuhkan rasa percaya diri karyawan tersebut terlebih dahulu. Akan tetapi, apabila rasa percaya diri masih belum tumbuh, langkah selanjutnya adalah menempatkan karyawan tersebut pada sebuah posisi paling ideal dengan kompetensinya. Jawaban terhadap soal ini akan menitikberatkan pada kiat-kiat meningkatkan rasa percaya diri pada karyawan tersebut.

Konsep teori :

Menurut Gerald Graham, Direktur Sekolah Bisnis Universitas Wichita State, cara paling efektif dalam mengilhami seorang bahwaan demi tujuan motivasi adalah dengan mengkaji riwayat dan pengalaman mereka. Sekali lagi, untuk menangani masalah ini, langkah yang diperlukan adalah mengidentifikasi faktor-faktor penyebab mengapa masalah ini bisa terjadi. Edi Setiawan, seorang personal trainer UNICOM, merumuskan beberapa tanda kurangnya rasa percaya diri pada seseorang. Tanda-tanda tersebut antara lain :

1. Mencari alasan atas segala tindakan

Orang yang percaya diri tidak butuh alasan atas setiap tindakan mereka, mereka hanya memberikan penjelasan secukupnya dan tidak mempermasalahkan orang lain percaya atau tidak pada penjelasannya. Jika seseorang membuat sebuah kesalahan, hal itu tidak akan mengubah siapa mereka. Adalah hak setiap manusia untuk membuat kesalahan dan kita tidak butuh sebuah alasan untuk menghindari hal itu.

2. Merespon Kritik dengan Cepat

Jika kita mengomentari kinerja seseorang dan ia dengan cepat membalas komentar kita dengan berbagai alasan untuk meyakinkan kita bahwa hal itu perlu dimaklumi, maka itu tanda sebuah rasa tidak percaya diri. Contohnya, jika kita mengatakan “Tumben kamu tidak dapat nilai bagus seperti biasanya?” dan teman kita langsung menjawab dengan cepat “Soalnya aku lagi capek, dan bla..bla.. “. jawaban seperti ini menunjukkan jika teman kita kurang percaya diri. Orang yang percaya diri akan mendengarkan lebih dulu sebuah kritik dan memilahnya apakah termasuk kritik yang membangun atau tidak.

3. Menutupi kekurangan

Adalah normal kita tidak ingin diejek karena kekurangan kita. Di dunia kerja, karyawan yang sering menutupi kekurangannya dilakukan dengan tidak belajar atas kekurangan yang dimilikinya.

4. Menjadi perfeksionis

Apakah itu perfeksionis? Cara gampang mengenalinya adalah jika kita menemui kalimat seperti “Aku harus dapat nilai sempurna” atau “Saya tidak boleh membuat kesalahan”. Seorang perfeksionis selalu menganggap dirinya gagal jika tidak mendapat dapat memenuhi targetnya dan hal ini membuat semakin berkurangnya rasa percaya diri. Seseorang yang percaya diri lebih memilih meraih keberhasilan daripada kesempurnaan. Jika dia sudah menganggap dirinya berhasil, maka dia tidak akan menghabiskan tenaga untuk membuat segalanya menjadi sempurna.

5. Body language

Salah satu tanda yang paling kasar adalah bahasa tubuh. Seseorang yang kurang percaya diri selalu mengambil ‘posisi bertahan’. Seperti melipat tangan diikuti dengan menyilangkan kaki. Bahasa tubuh adalah cermin dari perasaan yang sesungguhnya dari seseorang. Jika anda melihat seseorang melipat tangannya dan menyilangkan kakinya saat bersama anda, maka orang tersebut sedang berada dalam kondisi tidak nyaman berada dengan anda. Pikiran bawah sadarnya mengatakan bahwa melipat tangan atau menyilangkan kaki akan melindungi dirinya dari gangguan luar.

Pakar motivasi Gerald Graham juga memiliki beberapa kiat mengilhami seorang karyawan dalam ruang lingkup perusahaan. Kiat-kiat tersebut antara lain : (1) memberikan kepada pekerja keterangan yang mereka perlukan untuk melakukan sesuatu pekerjaan yang baik; (2) memberikan kesempatan umpan balik secara teratur; (3) meminta masukan dari karyawan dan melibatkan mereka di dalam keputusan yang mempengaruhi pekerjaan mereka; (4) membuat saluran komunikasi yang mudah dipergunakan, sehingga karyawan dapat menggunakannya untuk mengutarakan pertanyaan/kehawatiran mereka dan memperoleh jawaban; (5) belajar dari para karyawan itu sendiri apa yang memotivasi mereka; (6) mempelajari apa saja kegiatan-kegiatan lain yang pekerja lakukan bila mereka mempunyai waktu luang, dan kemudian menciptakan kesempatan bagi mereka untuk melakukan kegiatan itu secara lebih teratur; (7) memberi selamat secara pribadi kepada karyawan yang melakukan pekerjaan dengan baik; (8) terus menerus memelihara hubungan dengan orang yang mereka bawahi; (9) menulis Memo secara pribadi kepada mereka tentang hasil kinerja mereka; (10) menghargai karyawan karena pekerjaan mereka yang baik secara umum; (11) meliputi pertemuan-pertemuan pembentukan moril seperti “merayakan kesuksesan yang dicapai kelompok” dan tidak perlu dibesaar-besarkan cukup dengan memberitahukan kelompok pada waktu yang tepat bahwa mereka telah mengerjakan suatu pekerjaan dengan baik; (12) memberi karyawan satu pekerjaan yang baik untuk dikerjakan dan para penyelia harus memperlihatkan kepada karyawan bagaimana mereka dapat berkembang dan memberi kesempatan untuk mempelajari kemampuan-kemampuan baru; (13) memastikan apakah karyawan mempunyai sarana kerja yang terbaik; (14) Kenalilah kebutuhan-kebutuhan pribadi karyawan karena karyawan akan lebih terdorong untuk bekerja bagi perusahaan yang memperhatikan keperluan pribadinya; (15) Gagasan menggunakan kinerja sebagai sadar untuk promosi masih dianggap revolusioner; (16) menetapkan suatu kebijakan promosi dari dalam secara komprehensif; (17) menegaskan komitmen perusahaan terhadap perkaryaan jangka panjang; (18) membantu berkembangnya rasa “bermasyarakat” sehingga karyawan akan merasa betah di dalamnya, telah hilang; (19) Gajilah karyawan secara bersaing berdasarkan apa yang mereka kerjakan; dan (20) menawarkan “pembagian keuntungan” (profit sharing) kepada karyawan.

Alternatif solusi :

Berdasarkan pandangan akademis yang saya peroleh, maka dapat disimpulkan bahwa untuk mengilhami seorang karyawan yang tidak memiliki rasa percaya diri, langkah yang harus ditempuh adalah memberikannya motivasi. Berangkat dari kerangka ilmu yang dibicarakan sebelumnya, maka saya akan merancang strategi untuk mengilhami bawahan saya, namun kurang mempunyai rasa percaya diri. Berikut langkah-langkah yang saya tempuh untuk mengilhami karyawan baik yang tidak memiliki rasa percaya diri berdasarkan perspektif pragmatis dan akademis.

1. Mengkritik karyawan itu tidak di hadapan orang lain

Mengkritik karyawan di hadapan orang lain adalah pembunuh motivasi/rasa percaya dirui nomor satu. Oleh karena itu, demi munculnya rasa percaya diri karyawan itu, saya tidak akan permalukan karyawan di hadapan orang lain. Selain mematikan rasa percaya diri, mengkritik karyawan di hadapan orang lain akan dapat membunuh karakter seseorang dan menimbulkan dendam.

2. Tidak menghina/merendahkan karyawan.

Melontarkan kata-kata seperti, "bodoh", "goblok", atau kata-kata penuh hinaan lain adalah tindakan yang harus saya hindari jauh-jauh. Ketika karyawan yang baik itu melakukan kesalahan, langkah yang saya lakukan pertama kali adalah memberitahu cara pelayanan yang benar dibandingkan merendahkan bahkan menghinanya.

3. Tidak menganggap karyawan sebagai alat

Sebagai penyelia, saya sudah pasti menggunakan orang lain untuk mencapai tujuan. Cara mengilhami terbaik adalah selalu menganggap karyawan tersebut sebagai aset utama saya dalam bekerja di departemen front office.

4. Berlaku dengan adil

Sebagai seorang penyelia, saya tidak akan melakukan diskriminasi atas alasan apapun kepada masing-masing karyawan. Mereka semua saya anggap sebagai yang terbaik. Dengan berlaku adil, saya harap tidak ada bawahan yang merasa lebih diperhatikan atau kurang diperhatikan. Sehingga setiap karyawan memiliki kepercayaan diri yang tinggi secara merata.

5. Mengajak karyawan untuk melatih kepercayaan diri

Usaha melatih kepercayaan diri saya lakukan dengan melaksanakan pelatihan dan pengembangan presentasi secara terbuka. Pelatihan kepercayaan diri dapat dilaksanakan dengan melakukan role play atau bermain peran. Khusus bagi karyawan dengan kepercayan diri rendah, maka saya akan berikan porsi lebih banyak

6. Tegas dalam mengambil keputusan.

Semua bawahan saya membutuhkan sebuah keputusan yang tegas, segera, namun bijaksana. Hal ini harus dilakukan sebab apabila karyawan dipimpin oleh penyelia yang bimbang, maka keputusan mereka pun bimbang. Hal ini cepat sekali menjegal motivasi.

7. Memberikan kesempatan karyawan mengambil keputusan sederhana

Tidak semua keputusan berada di tangan saya sebagai penyelia. Terkadang, dalam situasi mendesak dan masalah yang sederhana, karyawan saya harus diberikan kesempatan member keputusan. Mengambil keputusan akan membuat kepercayaan diri karyawan saya itu meningkat.

8. Mendelegasikan pekerjaan pada karyawan

Sebagai pihak dengan tingkat kepercayaan diri tinggi dalam bekerja, saya akan menularkan virus percaya diri kepada bawahan saya. Menularkan virus percaya diri itu saya lakukan dengan mendelegasikan beberapa tugas saya. Tentunya sebelum mendelegasikan tugas, saya berani mempertanggungjawabkan kinerja karyawan saya yang dalam kasus ini adalah karyawan yang baik.

Selain langkah-langkah yang saya sebutkan di atas, langkah mengilhami karyawan dengan percaya diri rendah juga saya lakukan dengan mengantisipasi segala bentuk faktor penyebab kurangnya percaya diri. Dengan langkah-langkah ini, saya harap operasional departemen front office berjalan dengan baik sesuai harapan manajemen puncak.

3. Manakah cara yang paling efektif untuk memuji bawahan? (Soal tambahan)

Uraian Masalah :

Memuji karyawan adalah salah satu metode motivasi yang cukup efektif. Sayangnya tak jarang dalam memuji, saya sebagai penyelia di departemen front office memiliki kesulitan. Karyawan yang dipuji tak jarang bersikap angkuh atau sombong dan karyawan yang tidak dipuji menjadi minder dan kurang percaya diri. Memuji yang berlebihan juga tak jarang berakhir pada menurunnya kinerja karyawan akibat merasa diri paling hebat. Masalah yang muncul terjadi akibat adanya kesenjangan antara harapan saya sebagai penyelia yang harus memotivasi karyawan dengan memuji atas keberhasilan bawahan dan kenyataan hal-hal yang mungkin terjadi akibat pujian itu sendiri. Untuk itulah diperlukan langkah-langkah efektif dalam memuji bawahan.

Konsep teori :

Bob Nelson, seorang pakar dalam memotivasi karyawan, menyebutkan bahwa memuji adalah salah satu bentuk penghargaan yang paling murah. Ia sama sekali tak membutuhkan biaya. Ada sebuah survey karyawan yang mengungkapkan bahwa pujian dari atasan di saat mereka melakukan sesuatu yang baik adalah insentif nomor satu yang paling memotivasi. Namun, 60% karyawan mengatakan bahwa mereka jarang menerima pujian. Ini kemungkinan karena banyak dari atasan tidak mengetahui bagaimana memberikan pujan yang efektif. Menurut Bob Nelson, karakter pujian yang dampak member motivasi karyawan adalah sebagai berikut.

a. Tepat pada waktunya

b. Tepat pada pihak yang kinerjanya melampaui harapan

c. Bersifat pribadi

d. Tidak bersifat menjatuhkan karyawan lainnya

e. Tidak bersifat keterpaksaan

f. Tidak memberikan pernyataan negatif dibalik sebuah pujian (tanpa kata ‘tapi’)

Alternatif solusi :

Sebagai seorang penyelia di departemen front office, saya wajib untuk memuji karyawan yang kinerjanya memuaskan atau berada di atas standar (exceed expectation). Untuk mengantisipasi hal-hal negatif yang timbul sebagai dampak memuji, maka diperlukan beberapa cara efektif. Berikut cara-cara yang saya tempuh dalam memuji bawahan saya. Saya menyebut strategi memuji yang positif dengan istilah ASAP, yaitu as Soon, as Sincere, as Personal, as Positive and as Proactive as possible. (Sesegera, setulus, sejelas, sepersonal, sepositif dan seproaktif mungkin)

1. as Soon as possible (sesegera mungkin)

"Timing" memberikan pujian sangatlah penting, apalagi bila ditujukan untuk menekankan sesuatu yang baik. Saya akan memberikan pujian sesegera mungkin setelah tugas atau tindakan yang saya harapkan diselesaikan bawahan saya. Ambil contoh apabila karyawan saya mampu menjual kamar kepada tamu, sehingga memaksa tamu extend untuk menginap, bila perlu saya akan memotong pembicaraan saya untuk member pujian yang sesegara tadi.

2. as Sincere as possible (setulus mungkin)

Saya akan memuji karyawan saya dengan penggunaan kata-kata yang halus dan bukan karena terpaksa. Memuji karyawan dengan sikap tulus akan membuat kata-kata saya tidak terasa hambar. Salah satu contohnya adalah mengatakan bahwa operasional front office tidak akan berhasil tanpa kerja keras bawahan saya tersebut.

3. as Specific as possible (sejelas mungkin)

Sebuah pujian pada seorang karyawan tentu akan berbeda dengan karyawan lain. Oleh sebab itulah maka saya akan menjelaskan di kemudian waktu mengapa saya memuji karyawan tersebut tentunya dengan penjelasan yang lengkap tentang prestasinya.

4. as Personal as possible (sepribadi mungkin)

Nelson menyebutkan bahwa kunci menyampaikan pesan anda adalah dengan berhadap-hadapan. Hal ini akan saya lakukan untuk menunjukkan betapa pentingnya apa yang dilakukan oleh karyawan tersebut sehingga saya rela menyingkirkan pekerjaan saya sejenak.

5. as Positive as possible (sepositif mungkin)

Dalam memuji, saya akan selalu bersifat positif. Caranya adalah dengan tidak menutup suatu pujian dengan catatan kritis. Misalnya saya tidak akan mengatakan "Anda telah melakukan kerja yang baik, tapi ada beberapa koreksi,". Hal ini karena kata "tapi" menjadi penghapus bagi seluruh pujian.

6. as Proactive as possible (seproaktif mungkin)

Sikap memuji akan saya lakukan dengan proaktif yaitu tidak menunggu sebelum diminta oleh manajer saya. Sebagai penyelia, sudah menjadi kewajiban bagi saya untuk memuji bawahan dengan kinerja memuaskan.

Sekali lagi, sebagai bentuk motivasi kerja karyawan, sebagai penyelia saya harus member pujian bagi karyawan dengan kinerja yang memuaskan. Akan tetapi, dengan strategi yang jitu, memuji tidak akan berakhir dengan menurunnya operasional kerja perusahaan.

E-Commerce Proposal

AN ELECTRONIC COMMERCE PROPOSAL

presented by

MADE HANDIJAYA DEWANTARA

warrior-logo-head.jpgELECTRONIC COMMERCE MANAGER



THE KUTA WARRIOR HOTEL


PRESENT TO MANAGEMENT AND BOARD OF EXECUTIVE

KUTA, BALI, DECEMBER 21ST 2009



Text Box: TABLE OF CONTENT : 1. INTRODUCTION 2. MARKET SEGMENTATION, DEMAND, AND NEEDS IDENTIFICATION  3. E-COMMERCE STRATEGY 4. E-COMMERCE TACTICAL RECOMMENDATIONS 5. HOTEL’S FACILITIES 6. E-COMMERCE PROBLEM ANTICIPATED 7. CONCLUSION E-COMMERCE MODEL




I. INTRODUCTION

1.1. Definition of Electronic Commerce

Electronic commerce or e-commerce is the distribution, purchase, sale, marketing of goods and services through electronic systems such as the Internet or television, www, or other computer networks. E-commerce can involve electronic funds transfer, electronic data interchange, automated inventory management systems, and automatic data collection systems. See the information technology industry e-commerce activities as the application and implementation of e-business (e-business) related to commercial transactions, such as electronic funds transfers, SCM (supply chain management), e-marketing (e-marketing) , or online marketing (online marketing), online transaction processing (online transaction processing), electronic data interchange (electronic data interchange / EDI), etc..

E-commerce or e-commerce is part of e-business, in which the scope of e-business more broadly, not just commercial but also include the mix of business partners, customer service, etc. and jobs. Apart from www., network technologies, e-commerce also requires database technology or data base (databases), e-mail or electronic mail (e-mail), and the form of non-computer technology as well as other delivery systems, and tools for e-payment this trade. E-commerce was first introduced in 1994 when first-electronic banner used for promotional and advertising in a web-page (website). According to Forrester Research, electronic commerce generated sales worth U.S. $ 12.2 billion in 2003. According to another report in October 2006, online retail revenues of non-travel in the United States expected to reach the quarter-trillion U.S. dollars in 2011.

1.2. E-Commerce History

The term "electronic commerce" has changed over time. Initially, electronic commerce meant the use of commercial transactions, such as the use of EDI to send commercial documents like purchase orders or invoices electronically.

Then he developed into an activity that have a more precise term "Web commerce" - the purchase of goods and services via the World Wide Web via secure servers (HTTPS), a special server protocol that uses encryption to keep important data customers. At first when the web became famous in the community in 1994, many journalists predicted that e-commerce will become a new economic sector. However, only about four years later as the HTTPS secure protocol enters a mature and widely used. Between 1998 and 2000 many businesses in the U.S. and Europe to develop this trade website.

1.3. E-Commerce Objectives

In many cases, an e-commerce companies can survive not only rely on strength alone product, but with a reliable management team, timely delivery, good service, organizational structure is good business, infrastructure and network security, web site design good, several factors which include :

1. Provide competitive pricing

2. Purchases provide a responsive, fast, and friendly.

3. Providing information goods and services a complete and clear.

4. Provides many bonuses such as coupons, special offers, and discounts.

5. Giving special attention such as the proposed purchase.

6. Providing a sense of community for discussion, input from customers, and others.

7. Facilitate the trading activities

1.4. Business Applications

Some common applications related to e-commerce are :

E-mail and Messaging

Content Management Systems

Documents, spreadsheets, databases

Accounting and financial system

shipping and ordering information

Reporting information from the client and the enterprise

System of domestic and international payments

Newsgroup

On-line Shopping

Conferencing

1.5. Benefit

By using this electronic commerce strategy, there’re some benefits will be get such as follows :

  1. Increasing our total revenue by 30% total increased.
  2. Increasing our total room occupancy rate from 60% into 70% average room occupancy.
  3. Increasing our market segment from 4 countries into 6 countries.
  4. Making close relationship between our customer and our staffs
  5. Making easier way for the customer to serve a room
  6. Providing all information about our product effectively efficiently

Those facts is very inspired me to create a new concepts of our hotel marketing. We must make a new innovative plan from old marketing into a new marketing with based on electronic trade and commerce. Our old marketing strategy is still not satisfied us because we’re only got 60% of room occupancy total and about only 50% of them are the double room occupancy. That’s why the board of executive made a new position to manage this marketing strategy professionally. The board of executive choose me as The Electronic Commerce Manager and by making this proposal, I want to create a new strategy for this electronic commerce. Here’s The Proposal of Electronic Commerce Kuta Warrior Hotel.

2. MARKET SEGMENTATION, DEMAND, AND NEEDS IDENTIFICATION

Table 01. Our Market Segment

No

Origin / Market segment

Percent

1

Australian

50%

2

Indonesia

30%

3

Japan

15%

4

Others Asia and Europe

5%




As the graphic above shows that shows Australian is the strongest market. And then Indonesia is still as dominate Asian Market segment. Moreover, Japan still become our market segment because it’s make 15% contribution of our total revenue. Our last market segmentation are others Asia and Europe. Both of them give 5% contribution from our total market segmentation. As the graphic above, we can know that most of our market segmentation is come from outside (foreign country). Outside market segmentation means we must keep a strong relationship with them because most of our guest will be not come directly, however they must reserve their room at first before they come as a guest.

Based on the source from internet, I already know that all of our market segments are the internet users actively. The Internet is now believed to be a powerful tool for marketing the product. There’re quite a lot of people are also unfamiliar Indonesia with credit card payment online. This is different from conditions in the U.S., Europe and Australia, which used to using credit cards online as a means of payment. In Indonesia, there’re about 500.000 internet users approximately increased in a year. It’s not too different with others market segment like Japan, Australia, and also Europe.

Those facts shows us how much important the electronic commerce for electronic marketing. First, we must create a new concept electronic marketing which can increase our total market segmentation. Second, we must conduct a new strategy to keep strong relationship with our market segmentation to ensure they will come back for the others opportunity. And last but not least, by using electronic commerce strategy, we hope we can give easier way for our market segmentation to reserve our room.

3. E-COMMERCE STRATEGY

After we know about how is necessary the electronic commerce is, then we must create any strategy for using the electronic marketing. The Kuta Warrior is three star hotel in Kuta, and Kuta is one of famous beach destination in the world. It will be not too hard to attract our tourist to come to Kuta. For some strategies, we must look at four and five star hotel electronic marketing strategies.

At any stage, organizations can use their e-marketing capability to achieve the business goals of acquisition, retention, and operational cost savings. At each stage, the organization should track and record responses to inform future campaigns and lay the foundation for the next stage of development.

Table 02. Four Stages of Strategic Development

Hotels by Stages of Strategic Development




Source : ION Organization 2009

Those two stages chart shows us how is strategic commerce happen in today’s organization marketing. Firstly, they use website for electronic commerce strategy. Some big hotels has its own website, directly connected with some chain hotels. For us as three star hotel, it will be wisely if we create the hotels own private website. Secondly, for email publications, it’ll be necessary especially for reservations process. We must make create a newsletter monthly, quarterly, or one-off. This email publications also has the functions as a links back into the our private website. The email publications also can be used as initial gathering of preferences.

Strategy number three is about how we care about the audience specific. There’re some strategic for this stage, several of them is making regularly monthly newsletter. When our guest has know our website, and start to reserve the room, the books engine must be connected directly into the website. For easier bookings, the reserve page must be simple-audience but specific customization. The highest stage of this strategy is automated rules-based / business integration. On this stage, e-newsletter distributed with promotion release. It must be there’s some incentives and sophisticated to use online channel like special rate.

4. E-COMMERCE TACTICAL RECOMMENDATIONS

A 360-degree e-mail marketing strategy takes into account every aspect of the marketing process to conceptualize and plan an integrated solution that can best leverage a hotel’s existing client-base and capture new clients through all ongoing and up-selling opportunities. The tactics outlined below are a sampling of some of the more fundamental aspects of successful online marketing efforts.

1. Be prompt

The first rule is to send a newsletter as the confirmation e-mail upon registration. If an e-newsletter is produced monthly, then send the latest edition. Or, if we can only send a confirmation e-mail, be sure to specify the timeframe in which they can expect to receive their first e-newsletter. The user doesn't know if "soon" means the next day or the next month. When a user takes the time to supply contact information on a website, they are actively seeking information and will expect immediate results.

2. Personalize, but not pigeon-hole

Gather basic data about our registered users, such as which destinations and types of activities that interest them the most. If possible, tailor our subsequent communications to this data, but avoid rigid classifications that will pigeonhole customers, or we may miss opportunities.

For example, if Ms. Lee has specifically stated that she is interested in golfing in Sanur, it is likely that this "top-of-mind" preference pertains to her next trip. We then have the unique opportunity to ensure the next communication we send her is relevant, and therefore more likely to appeal to her. Remember, however, that this initial preference does not mean she won't be interested in a spa package at our property in Kuta for her next holiday.

Developing our own interested e-mail list combined with precision marketing will result in much higher sales conversion than purchased lists and unsolicited e-mail. In our experience, precision e-mail marketing can generate an average click-through rate of 10–15%, rising to up to 50% for filtered e-mail lists. Evolving the technology and operational processes to provide customized e-newsletters will take time and investment, but our customers will appreciate it, and their favorable impression of our brand will be maintained or even improved.

3. Be action-oriented

We want our users to act on what we're sending them. Ensure that our website contains the information that these potential guests will need to make their booking decision, such as offer details, terms and conditions, and available hotel amenities and services. Provide support to them if they want to make inquiries or book rooms online. Our booking engine should automatically populate the booking form with the relevant offer details and should display the advertised rate, so that the user knows they are getting what they expect. Many hotel websites make the mistake of requiring the user to re-select the hotel and displaying the rack rate instead of the advertised rate. If we want people to use online channels, the service should be just as good or better than what they would get from calling our telephone reservations line or a travel agent.

4. Explore local opportunities

Remember that e-mail marketing is not limited to monthly e-newsletters to potential guests. Its greatest strength is as an extremely personal and customizable communication channel with all of our existing and potential customers. As a deluxe Asian hotel, out-of-country visitors aren't our only potential target for e-marketing, what about our local client ? It is provide 30% contribution. E-marketing is relatively low-cost to implement, and e-mail lists of our local customers will be easier to obtain than lists of foreigners wishing to visit our hotel.

5. Capitalize on existing assets – Loyalty Programs

Leverage an existing asset, such as an airline partner mileage program or our own loyalty program, as incentives for our customers to switch to online channels. This could be across all hotels or just targeting certain properties or rooms where increased traffic is needed.

Loyalty programs have been extremely successful in creating significant increases in the number of reservations booked and sold directly online. This is because they allow we to target the most valuable and active customers and reward them for transacting with we directly.

Here are some ideas for promotions to move customers online through a loyalty program:

a. Award bonus points or miles

This campaign is for rooms booked online within a finite period of time (e.g. six weeks) and should be communicated three to four weeks prior to the promotion start date so there is time to change people's behaviour and get them to book and to benefit from the promotion. The simpler the message the more effective it will be. Focus on what the reward points will deliver in terms of free accommodation or upgrades rather than the number of points awarded.

b. Reduce redemption requirements for online bookings

There will be times when certain properties have excess capacity. This would be a good time to reduce the miles or points to qualify for a reward stay booked online. We could also tactically reduce the number of points needed for a room upgrade when the situation permits – for example, a member reserving a deluxe room online could enjoy superior status for 50% of the usual points. This is a good switch from other hotels and where travel policies do not allow superior status.

c. Let online users book rooms for cash plus points

Offer members who do not have enough points for a complete redemption the opportunity to book rooms online for cash plus points. This is a good way to drive incremental revenue.

d. Use online channels to acquire new members

Attract new members to our loyalty program by offering an activation bonus for booking online. This can be a good tool for converting an existing database (e.g. food & beverage) or a list we have as a result of an association into program members and rewarding their next stay. For example, anyone joining our loyalty program and booking online within 6 months of joining receives 500, 750 and 1,000 bonus points for standard, deluxe and superior rooms respectively. We could consider increasing this bonus if we need to increase the number of new members.

Another and proven means of getting new members is a "Member Get Member" campaign, which is particularly suited to online execution for ease of management and cost effectiveness. Also referred to as "viral marketing", existing members nominate friends, family and colleagues to join. The member will earn bonus points for each nominee who joins. The referring member then earns a variable bonus based on the room rate whenever the new member books online.

5. HOTEL FACILITIES

After we see the necessary things about website, it’ll be so important for us to explain all of the guest facilities in our website. As the electronic commerce strategy in the last chapter, our guest must be see our monthly newsletter. On these newsletter, we must describe all of the facilities in our hotel as follows, guestroom, restaurant, bar, room service, and laundry service.

5.1. Guest Rooms (150)















The Kuta Warrior Hotel has 150 rooms in total, that all rooms is standard room. As the three star hotel, we give normal rate about Rp 600.000,00 per night for all of our room. Standard facilities of our guestrooms are :

a. 2 type of view : beach view, and garden view (beach view has special rate)

b. Twin bedded or double bedded

c. Facilities down pillows and duvets

d. Non allergic and orthopedic pillow

e. 100% cotton oversized bath towels

f. Robes and slippers

g. Hairdryer

h. Complimentary premium toilet ries

i. Iron and ironing board

j. Tea/coffee maker

k. In room save

l. Multiline telephone

m. Colour television

n. Shower and bathtub

o. Laundry service

p. Porter service for check in and check out

At the end of this website, we must put the remark that the rate is not include 21% tax and service. It is according into our electronic commerce strategy that we must describe our facilities into the guest by simple but clearly.

5.2. Food and Beverage Services

Coffee Shop

Coffee shop is one of restaurant in our hotel and it’s close to the lobby. It has 50 seats in maximum capacity. Coffee shop always open for breakfast, lunch, and dinner. We’re focused on European and Australian food in this restaurant. It is because we want to provide 70 % of our market segments, especially Australia (50% of our market segment). We’ll describe this restaurant in the website and the reservation link directly into the monthly newsletter.



Four Seasons Resort Bali at Jimbaran Bay - Dining : Taman Wantilan Perched 30 metres (100 feet) above the shoreline, Taman Wantilan's open-sided pavilion design features a two-tiered roof and is modelled after a traditional Balinese wantilan, or village meeting place.


For electronic commerce strategy, we must explain all of menu that we offered to the guest. (See electronic commerce strategy)

Appetizer

Caesar salad Rp 17.000

Mixed green salad Rp 17.000

Parma Ham and cantaloupe Melon Rp.14.000

Garvlax Rp.27.000

SOUP

Tomato Soup Rp.20.000

Seafood Choweder Rp.17.000

Crab and Corn Soup Rp.27.000

LIGHT MEAL

Work fried Bean Curd Rp.18.000

Bread Chicken Breast Rp.17.000

Pan-fried Red Fillet Rp.19.000

FROM THE GRILL

King prawn Rp.28.000

Seafood Skewer Rp.19.000

Fish of the day Rp. 19.000

Australian Sirloin Steak Rp. 28.000 (market segments)

Australian tenderloin Steak 200 gram Rp.18.000 (market segments)

Australian Lamb Chops Rp.18.000 (market segments)

Roasted Chicken Breast Rp. 33.000

Bacon-Wrapped Pork Tenderloin Skewers Rp.33.000

DESSERT

Layerd carmel, walnut and pumpkin cake Rp.75.000

Tropical fruit Rp.69.000

Cheese cake Rp.75.000

Mango and pasiion, frut crème brulle Rp.75.000

Ice cream ir sorbet by the scoop Rp.31.000

Indonesian Food Restaurant

Four Seasons Resort Bali at Jimbaran Bay - Dining The mood at PJ's is always upbeat and casual.The other restaurant is Indonesian Food Restaurant and it has beach view. It has 30 seats in maximum capacity. This restaurant always open for lunch, and dinner. This restaurant is for providing 30 % of our market segments (Indonesia). That’s why we offer Indonesian food focused in this restaurant. However, we also offer another Asian food for this restaurant. Some of them are halal food. We’ll describe this restaurant in the website and the reservation link directly into the monthly newsletter.

For electronic commerce strategy, we must explain all of menu that we offered to the guest. (See electronic commerce strategy)

Appetizer

Gado-gado Rp 10.000

Satay and ketupat Rp 10.000

Pecel Bali Rp 15.000

ASIAN SELECTION

Soto Ayam Rp. 28.000

Soup Buntut Rp.18.000

Nasi goreng Rp.28.000

Mie kuah Rp.28.000

Mie goreng Rp.25.000

Phad thai Rp.43.000

Tom ka gai Rp.45.000

Rending sapi Rp.35.000

Kare Rp.41.000

Ikan gurame Rp.37.000

Szechewan Rp.48.000

DESSERT

Rujak Cingur Rp 20.000

Sup buah Rp 17.000

Es buah Rp 15.000

Es campur Rp 15.000

Hotel Bar

The third food and beverage outlet of our hotel is bar. We put the bar in two of our restaurant. We provide some beverages on this bar. Because of our market segments come from Australia and Indonesia, so we put some halal and alcoholic beverages on this bar. We also will put it on our website design and put it as a link.

GIN

GORDON Rp 50.000

BOMBAY SAPPHIRE Rp 60.000

TANQUERAY Rp 55.000

RUM

MALIBU Rp 45.000

BACARDI LIGHT Rp.65.000

VODKA
SMIRNOFF Rp 40.000

STOLICHNAYA Rp 55.000

CIROC Rp 48.000

SPECIAL COFFEE

IRISH Rp 20.000

ITALIAN Rp 30.000

PRINCE CHARLES Rp 50.000

MEXICAN Rp 35.000

FRESH FRUIT BLENDS

BANANA AND STRAWBERRY Rp 25.000

PINEAPPLE AND COCONUT Rp 15.000

PAPAYA AND WATERMELON Rp 10.000

MIXED FRUIT JUICE Rp 17.000

MINERAL WATER

EQUIL NATURAL Rp 10.000

EQUIL SPARKLING Rp. 12.000

LARGE EVIAN Rp. 15.000

LARGE ACQUA PANNA Rp. 60.000

AQUA Rp. 5.000

SOFT DRINKS/SODAS

COKE Rp 10.000

SPRITE Rp 8.000

BITTER LEMON Rp.18.000

FRESHLY SQUEZED LIMEADE Rp. 25.000

Room Service

For the guest which want to get their meals in the rooms, we also provide room service. Most of these menu comes from Indonesian Food Restaurant and Coffee shop. Room service is available 24 hours for our guest.

At the end of this website, we must put the remark that the rate is not include 21% tax and service. It is according into our electronic commerce strategy that we must describe our facilities into the guest by simple but clearly.

5.3. Laundry Service

Last but not least, we also provide laundry service for our guest. This kind of service must be explained in our private website to attract our guest to use this facilities.

6. E-COMMERCE PROBLEM ANTICIPATED

Implementation of Online marketing strategy (e-marketing) the right will help be expand our hotel's business market, and the website our company will have added value because it can support our company's business development.

Homepage is a means of promotion in the world of cyberspace or the internet. The development of cyberspace today's world so fast. Until now, Internet users in Indonesia have amounted to approximately 500,000 Internet users. That amount will increase with increasing amount of people will understand the benefits of the Internet, both for the purpose of information, entertainment or for business purposes, especially in the face the competition in a free market economy later. The condition is a potential new segment for the company to expand its business market share. After make a calculation, we will prepare about Rp 20.000.000,00 for making a homepage for this electronic commerce completely.

In today’s global industry, there’re some problem facing homepage electronic commerce. A lot of homepage, some of them, hotel’s homepage are lonely. Most of them are not recognized perfectly.The success of a site depends on many factors.

Firstly is design of the homepage. A homepage / website should look attractive, but in accordance with the building purpose of the website. Image positioning, navigation is easy and not confusing, as well as a clear material, but not boring. Besides the speed factor also access the website, this is what should really be noted. If a homepage / website have access to the old rate, then it is not impossible, the visitors will going out soon, but otherwise if its access speed, the visitor will feel at home, especially if supported by an attractive site appearance and not boring.

Second is Content. Content of a site must also be able to bring netter to enjoy it. Give the things that can create opportunities netter for a little pro-active, provide facilities, games, forums, and surveys, or anything else that is more formal, such as feedback, aspirations, or contact netter, so netter feel I have a place on the site . Give a little attention with a speech or a newsletter, through mailing lists, etc..

Last but not least is e-Marketing. Online promotion is one of the main key to the success of a homepage / website. Tricks and strategies that fit in conducting e-marketing to a homepage / website determines whether or not a lot of visitors, and the existence of a website for the future.

7. CONCLUSION

After discussed with all management, we can conclude that we must change our marketing strategy from old marketing into electronic marketing especially in electronic commerce. For this strategy, we must make an integrated management and operational module. We built our homepage with url : www.kutawarriorhotel.com. For our personal mail, we provide it by using this email address : reservation@kutawarriorhotel.com.

ENCLOSURE

E-COMMERCE HOMEPAGE MODEL