Tampilkan postingan dengan label Property Project. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Property Project. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Maret 2010

Property Succeceded

PENERAPAN ERGONOMI

DI HOTEL BALI SANUR BUNGALOWS

ABSTRAK

Bali Sanur Bungalows adalah salah satu hotel berbintang dua di kawasan wisata Sanur. Dalam usaha untuk lebih menarik wisatawan, hotel dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti bangunan dengan arsitektur Bali, kolam renang, perlengkapan dapur dan kamar serta cara pelayanan oleh karyawan dengan standar internasional . Dengan usaha tersebut ternyata hunian hotel meningkat dari sebelumnya menjadi rata-rata di atas 40 % sepanjang tahun. Di lain pihak di beberapa bagian fasilitas tersebut ternyata masih kurang memperhitungkan keterbatasan dan kemampuan kerja karyawan dalam melaksanakan tugasnya memberikan pelayanan kepada wisatawan. Di samping itu fasilitas untuk karyawan sendiri kurang diperhatikan. Banyak dijumpai karyawan bekerja dengan sikap paksa, lingkungan kerja yang kurang nyaman, pergantian giliran kerja yang panjang, sehingga menimbulkan keluhan muskulosekeletal dan keluhan subyektif, mangkir kerja dan efisiensi rendah. Untuk mengatasi masalah tersebut telah dilakukan perbaikan sesuai dengan prinsip ergonomi melalui pendekatan partisipasi. Hasil yang diperoleh antara lain mangkir kerja berkurang, keluhan muskuloskeletal dan keluhan subyektif di beberapa bagian menurun dan efisiensi kerja meningkat.

Kata kunci: ergonomi, pendekatan partisipasi, hotel

ABSTRACT

Bali Sanur Bungalows is one of the two stars hotel at Sanur Tourist Resort. To attract the tourists, the hotel were equipped by facilities such as Balinese interior, pool, kitchen equipment and international standard of services. With those efforts, the occupation rate of the hotel increased to 40 % on average every years. On the other hand the employees capacities have not matched to those facilities. Hence there were many employee work with bad working posture, uncomfortable environment, long shift work and at last caused musculoskeletal disorder and other subjective complaint, absenteeism, & low efficiency. To overcome these problems, an improvement had been conducted, 2 based on ergonomics participatory approach. The a results found are: decreased of absenteeism, subjective and muskuloskeletal complaint, but increased of work efficiency.

Key words : ergonomic, participatory approach, hotel

1. PENDAHULUAN

Bali Sanur Bungalows adalah salah satu hotel bintang dua di kawasan wisata Sanur. Dalam usaha meningkatkan daya tarik dan pelayanan kepada wisatawan telah dibangun berbagai fasilitas seperti bangunan type cattages dengan arsitektur tradisional Bali, kolam renang, fasilitas dapur dan kamar dengan standard internasional serta peningkatan pelayanan karyawan. Dari usaha tersebut terbukti hunian hotel meningkat melampaui 40% sepanjang tahun. Dilain pihak ternyata dengan pembangunan fasilitas tersebut karyawan mengalami berbagai kendala dalam memberikan pelayanan. Di antaranya terjadi sikap paksa pada waktu bekerja, lingkungan kerja kurang nyaman. Di samping itu juga terjadi pergantian giliran kerja yang panjang serta asupan makanan kurang memadai selama kerja. Kondisi demikian akan cepat menimbulkan kelelahan, keluhan subyektif serta penurunan kemampuan kerja dan peningkatan mangkir kerja (Manuaba, 1985; Grandjean, 1988; Pheasant, 1991).

Untuk mengatasi masalah tersebut dilakukan intervensi ergonomi melalui pendekatan partisipasi. Dengan tujuan melalui penerapan prinsip ergonomi akan tercipta kondisi dan lingkungan kerja yang sehat, aman, nyaman dan efisien (Manuaba, 1996). Dengan demikian akan dapat mengurangi timbulnya kelelahan, keluhan subyektif, mangkir kerja, dan meningkatkan efisiensi kerja.

2. BAHAN DAN CARA

Subyek : sebagai subyek dalam penelitian ini adalah semua karyawan hotel BSB

khususnya di bagian personalia, accounting, house keeping, food and baverage,

satpam, binatu.

Cara kerja : dalam penerapan ergonomi ini memakai pendekatan partisipasi dengan

tahapan sbb:

1. observasi ke tempat kerja untuk melihat cara, sikap dan lingkungan kerja

2. wawancara mengenai keluhan subyektif dan keluhan muskuloskeletal

3. ceramah dan diskusi bersama manajemen dan karyawan mengenai cara-cara perbaikannya terhadap masalah yang dihadapi

4. melakukan perbaikan disertai evaluasi hasil perbaikan bersama-sama karyawan

Analisis : hasil yang diperoleh dianalisis secara deskriptif.

3. HASIL DAN PEMBAHASANNYA

1. Gizi atau asupan makanan

Untuk dapat bekerja dengan baik dan murah senyum selama 8 jam kerja, asupan makanan yang cukup dan bergizi sangat diperlukan karyawan. Untuk tujuan tersebut pihak manajemen telah memberikan uang makan sebesar Rp 500,- per hari kerja yang diberikan bersamaan dengan gaji setiap akhir bulan. Apabila uang Rp 500,- itu dibelikan makanan seluruhnya bisa mendapat satu bungkus nasi dengan lauk pauk yang cukup (berisi daging dan sayur termasuk 1 gelas teh manis). Tetapi karena diberikan bersamaan dengan gaji, uang itu dipakai untuk keperluan lain. Untuk makan setiap hari kerja mereka membawa atau membeli nasi di warung seadanya, yang dari sudut gizi dan kebersihan kurang memenuhi syarat. Di samping itu karena warung jauh dari hotel sering mereka makan meliwati jam istirahat untuk makan (lebih 1 jam). Dan kalau saat itu diperlukan sangat sulit dihubungi sehingga sering mengganggu kelancaran pelayanan hotel.

Untuk mengatasi masalah tersebut setelah melalui diskusi dengan pihak manajemen, karyawan dan dokter hotel, disepakati uang makan diganti dengan memberi makan sekali setiap giliran kerja. Untuk itu kemudian dibangun tempat makan atau EDR (Employee dining room) yang cukup baik (gambar 1). Tempat itu di samping untuk tempat makan bisa juga untuk tempat istirahat dan ngobrol di antara karyawan baik mengenai masalah pribadi maupun masalah pekerjaan. Dengan memberikan makanan dengan gizi 4 sehat dan menu 10 hari, kebersihan terjamin. Apabila sewaktu-waktu diperlukan bisa cepat dihubungi dan waktu istirahat makan tidak lebih dari waktu yang telah ditetapkan. Dan setelah dihitung biayanya ternyata Rp.350,- per orang per hari.

Gambar : Tempat makan karyawan




2. Giliran kerja

Semula pengaturan giliran kerja tidak teratur dengan pergantian setiap 5-7 hari. Dengan demikian tugas malam lebih dari 3 hari berturut-turut. Selesai tugas malam tidak diikuti libur tetapi langsung tugas pagi sehingga tidak sempat mengaso. Giliran tugas malam hanya di bagian SATPAM dan engineering. Dari 22 orang (semua laki-laki dengan usia 28-45 tahun) 22,7 % (5 orang) sering mengeluh badan lemes, kepala terasa kosong, pusing, mual-mual dan sering sakit dan absen.

Untuk mengatasi masalah tersebut telah disepakati pengaturan giliran kerja dengan rotasi 2.2.2 dan setiap habis tugas malam libur 1 hari. Setelah menerapkan sistem tersebut keluhan berkurang menjadi sekitar 9% (2 orang) dan sakit berkurang.

3. Operator komputer di bagian personalia dan akun

Karyawan personalia dan akun paling sering mengoperasikan komputer. Hampir selama jam kerjanya mereka duduk di depan komputer untuk mengurus surat-surat serta perhitungan belanja hotel setiap hari. Penempatan monitor komputer lebih tinggi dari tinggi mata operator waktu duduk (gambar 2a). Selama bekerja selalu menengadah, apalagi untuk mereka yang memakai kaca mata ganda (usia di atas 40 tahun) sehingga mereka sering mengeluh kekakuan atau sakit pada otot leher, bahu dan disertai pusing.

Sebagai akibatnya mereka sering mengaso, sehingga efisiensinya kurang. Untuk mengatasi masalah tersebut tinggi monitor komputer diturunkan sampai tepi atas monitor sesuai tinggi mata operator waktu duduk (gambar 2b). Dengan perbaikan tersebut keluhan leher 71,4% dan bahu berkurang 75% ( Sutjana, 1998) dan waktu mengaso berkurang sehingga efisiensi kerja meningkat.

Gambar 2a : Sikap kerja operator sebelum diperbaiki

Tepi atas motnitor lebih tinggi dari tinggi mata

Gambar 2b: Sikap kerja operator setelah diperbaiki

Tinggi tepi atas monitor setinggi mata operator

5. Tinggi kompor dan meja kerja di dapur

Juru masak (cook) di hotel sangat penting dan sering menentukan kualitas pelayanan hotel. Mereka harus mampu menyiapkan makanan yang enak, bersih, estetis dengan cepat. Pekerjaan mereka akan dilihat pada saat tamu ramai seperti waktu sarapan pagi, makan siang maupun makan malam. Dengan tinggi meja kerja atau kompor yang tidak sesuai (gambar 3a) menyebabkan mereka sering merasa cepat lelah, merasa sakit pada bahu dan lengan. Oleh karena lama berdiri mereka sering mengeluh sakit pinggang dan pegel pada kaki. Sebagai akibatnya mereka sering beristirahat sehingga hasil kerjanya lebih lambat.

Untuk mengatasi masalah tersebut tinggi meja dikurangi menjadi sekitar 68 cm (gambar 3b) (disesuaikan dengan tinggi siku karyawan yang tertinggi, yang pendek bisa pakai dingklik). Dengan perbaikan tersebut waktu istirahat curian dan keluhan berkurang.

Gambar 3a: Tinggi meja kerja (kompor) agak tinggi sehingga siku harus diangkat

Gambar 3b: Tinggi meja kerja (kompor) setinggi siku

6. Suhu lingkungan di dapur dan laundry

Kedua tempat kerja tersebut (dapur dan laundry) adalah tempat kerja yang memerlukan panas. Suhu lingkungan kerja mencapai 38-400C dengan kelembaban sekitar 75-80%. Pada kondisi lingkungan kerja seperti itu tenaga kerja kepanasan (gambar 4a) bekerja dengan banyak mengeluarkan keringat sehingga cepat merasa lelah. Untuk mengatasi masalah tersebut dilakukan perbaikan sbb (gambar 4b).:

- membuat ventilasi silang

- memasang pengisap udara

- menyediakan air minum yang cukup di tempat kerja

Gambar 4a: Ruang kerja panas, karyawan tanpa baju karena kepanasan

Gambar 4b: Ruang kerja sudah diperbaiki, antara lain dengan ventilasi silang

7. Bangunan cottanges dengan arsitektur Bali.

Dengan jenis bangunan arsitektur Bali terdapat banyak undagan, mulai dari lantai lobi, jalan meliwati candi bentar maupun masuk ke kamar. Sementara tamu yang “cek in” atau “cek out” selalu membawa barang atau koper lebih dari satu dengan berat sekitar 25 - 40 Kg. Akibatnya karyawan sulit untuk mengangkut dengan troli (gambar 5a) dan apabila diangkat cukup berat dan kurang efisien. Di samping itu setelah mengangkut karyawan mengeluhsakit pada otot-otot bahu dan leher bahkan ada sampai menderita HNP. Walaupun berat, mereka pasti akan memaksakan diri sebab akan ada imbalan “this for you” yang lumayan.

Untuk mengatasi masalah tersebut pada tepi lantai lobi dan beberapa undagan diberi ram (gambar 5b) sehingga bisa dilalui troli atau kursi roda. Dengan perbaikan tersebut pengangkutan barang lebih mudah dan lebih cepat. Keluhan karyawan setelah mengangkut barang juga dapat berkurang sekitar 20%.

Gambar 5a: Cara pengangkutan barang memakai troli melalui undagan

Gambar 5b: Cara pengangkutan barang melalui ram, lebih mudah

8. Tangga ke lantai dua

Pada bangunan tipe lumbung berlantai dua. Tangga ke lantai dua sangat sempit dengan lebar 65 cm dan sudut 800 sehingga sangat sulit pada waktu membawa barang atau koper ke atau dari lantai dua (gambar 6a), apalagi kalau membawa bed tambahan. Untuk mengatasi masalah tersebut untuk bangunan baru telah dibuat tangga dengan lebar 120cm, dengan sudut 300 dengan disertai bordes. Dengan perbaikan tersebut karyawan lebih mudah untuk mengangkut barang atau koper ke atau dari lantai dua (gambar 6b).

Gambar 6a: Membawa barang melalui tangga sempit (sebelum diperbaiki)




Gambar 6b: Membawa barang melalui tangga yang lebih lebar (setelah diperbaiki)

8. Undagan ke pantai

Dengan dibangunya jalan (trotoir) sepanjang pantai sanur dari depan Grand Bali Beach sampai Hotel Sanur Beach, ternyata menimbulkan masalah pada beberapa hotel yang diliwati, karena jalan itu lebih tinggi dari halaman hotel. Akibatnya apabila mau ke pantai harus naik ke jalan (trotoir) kemudian baru turun tanpa melalui undagan yang baik. Di sebelah Barat ada undagan dengan tinggi anak undagan masing-masing 30 cm.

Di sebelah Timur (mengarah ke pantai) tidak ada undagan tetapi hanya kemiringan saja sehingga sangat sulit dilalui terlebih-lebih bagi tamu yang berusia lanjut. Untuk mengatasi masalah tersebut pada undagan di sebelah barat trotoir ditambah anak undagannya sehingga tinggi anak undagan menjadi 15 cm (gambar 7a). Di sebelah timur trotoir dibangun undagan (gambar 7b). Dengan perbaikan tersebut para tamu lebih mudah ke pantai.

Gambar 7a: Anak undagan ditambah sehingga tingginya masing-masing 15 cm

Gambar 7b: Undagan ke pantai




9. Sikap kerja petugas tata graha

Karyawan petugas tata graha mendapat tugas 10-12 kamar per orang. Mereka harus membersihkan dan merapikan kamar setiap hari. Dalam melakukan tugas tersebut mereka sering melakukan sikap paksa seperi membungkuk atau jongkok sampai berjamjam (gambar 8), sering sering mengeluh sakit pinggang. Untuk mengatasi masalah tersebut untuk sementara dianjurkan untuk melakukan istirahat setiap 30 menit kerja.

Gambar 8: Sikap kerja petugas house keeping




10. SIMPULAN DAN SARAN

SIMPULAN

Di hotel Bali Sanur Bungalows dijumpai beberapa masalah yang berpengaruh buruk terhadap kelancaran serta kenyamanan pelayanan terhadap tamu, sehingga karyawan merasa cepat lelah dan menimbulkan keluhan subyektif. Dengan penerapan ergonomi terbukti dapat mengurangi kelelahan, keluhan subyektif, mengurangi absensi dan meningkatkan kelancaran pelayanan. Perbaikan tersebut bisa sangat sederhana dengan biaya murah apalagi dilakukan sejak perencanaan, tetapi bisa juga memerlukan biaya yang cukup besar apabila harus memperbaiki yang sudah ada.

SARAN

Prinsip ergonomi perlu selalu diperhatikan untuk mengurangi dampak negatif pembangunan di hotel.

11. KEPUSTAKAAN

Ergonomics. 4th Edition. London. Taylor & Francis Pheasant, S. 1991. Ergonomics, Work And Health. London. Macmillan Academic And Profesional LTD.

Garandjean, E. 1988. Fitting The Task To The Man. A textbook of Occupational Ergonomics. 4th Edition. London. Taylor & Francis

Manuaba, A. 1985. Some Ergonomic Problems in Hotels in Bali. Dalam Proceedings of The 22nd Annual Conference of The Ergonomics Society of Australia And New Zealand. DDIAE. Toowoomba, QLD. December.

Manuaba, A. 1996. Penerapan Ergonomi di Industri. Disampaikan pada Serasehan K3, 23-24 Mei di Jakarta. Garandjean, E. 1988. Fitting The Task To The Man. A textbook of Occupational

Pheasant, S. 1991. Ergonomics, Work And Health. London. Macmillan Academic And Profesional LTD.

Sutjana, D.P. 1998. Penyesuaian Tinggi Monitor Komputer Mengurangi Keluhan Leher dan Bahu Operator. Denpasar MKU.in Press.

Property Proposal

Grup Ciputra (GC) merupakan salah satu perusahaan pengembang properti terbesar di Indonesia yang sudah terkenal baik di dalam negeri maupun kalangan internasional. GC didirikan oleh Ciputra atau Tjie Tjin Hoan yang berasal dari keluarga sederhana di desa kecil Parigi, Sulawesi Tenggara. Setelah lulus kuliah dari jurusan arsitektur ITB pada tahun 1960, Ciputra membangun perusahaan pengembang properti pertamanya yang merupakan patungan dengan gubernur DKI Jakarta pada masa itu-Soemarno, PT. Pembangunan Jaya. Lalu pada tahun 1971 Ciputra mendirikan perusahaannya sendiri yaitu Metropolitan City. Belum merasa cukup, pada 1980 bersama dengan istri dan keempat anaknya yang baru tamat kuliah di luar negeri Ciputra mendirikan Ciputra Group. Secara struktur organisasi, Ciputra Group terbagi menjadi:

• PT Ciputra Development Tbk : proyek domestik dan luar negeri
• PT Ciputra Surya Tbk : proyek dalam negeri
• PT Ciputra Property : proyek komersial dalam negeri
• Ciputra Group for Overseas Project : proyek luar negeri


Melalui perusahaan-perusahaannya, Ciputra kini telah menjadi salah satu raksasa pengembang yang terpandang baik dalam skala domestik maupun internasional. Ciputra kini juga mengkoordinir delapan bisnis lainnya masing-masing konsultan, pariwisata, keuangan, infrastruktur, telekomunikasi serta air minum. Namun, sektor bisnis utamanya dalah sebagai pengembang properti. Sederet prestasi dan penghargaan telah diperoleh oleh pengusaha kawakan properti ini sehingga dijuluki “Begawan Properti Indonesia”.

Sebagai pengembang yang cukup lama berkecimpung dalam industri properti, Ciputra Group memiliki segudang pengalaman dan reputasi yang diakui dalam bidangnya. Hal ini terbukti dari sejumlah penghargaan dan proyek properti yang telah dihasilkan oleh salah satu pengembang properti terbesar di Indonesia ini. Prestasi dan reputasi yang dimiliki Ciputra Group tidak boleh membuat perusahaan ini terlena, malah sebaliknya prestasi demi prestasi harus diraih oleh Ciputra Group untuk menunjukkan kapasitasnya sebagai pengembang inovator. Meskipun memiliki keunggulan dalam pengalaman dalam industri ini yaitu 30 tahun lebih, perusahaan harus tetap mewaspadai perubahan-perubahan yang terus terjadi di lingkungan internal maupun eksternal. Di tengah persaingan industri properti yang semakin ‘panas’, terlambat merespon pasar dan memaksimalkan peluang akan menyebabkan perusahaan tertinggal dari kompetitor lainnya. Teknik yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk menghadapi perubahan antara lain: Internal Factor Analysis Summary (IFAS), External Factor Analysis Summary (EFAS), Strategic Factor Analysis Summary (SFAS), dan SWOT Analysis. Teknik ini banyak diadopsi dan dipakai oleh sejumlah besar perusahaan kelas dunia sehingga efektivitas teknik strategi ini dapat diyakini. Berikut ini akan dipaparkan masing-masing strategi yang telah disebutkan di atas.

Internal Factor Analysis Summary ( IFAS)

Internal Strategic Factors Weight Rating Weighted Score Comments

Strengths
S1 Manajemen yang berpengalaman 0.11 3 0.33 Pengetahuan dalam bidangnya
S2 Reputasi perusahaan 0.15 3 0.45 Telah diakui di kawasan Asia
S3 Responsif terhadap kondisi pasar 0.10 2 0.20 Siap dan adaptasi menghadapi perubahan dari keuntungan produk yang ditawarkan
S4 Penjualan secara inden (prajual) 0.02 1 0.02 Meringankan alokasi biaya dan modal kerja
S5 Joint Venture dengan mitra bisnis 0.17 3 0.51 Modal kerja dan kemudahan akses serta dan pemerintah setempat fasilitas (cth. perpajakan, pembebasan lahan)

Weakness
W1
Harga jual 0.15 4 0.60 Harga cukup mahal untukmasyarakat negara berkembang
W2 Biaya periklanan dan promosi 0.12 4 0.48 Mencari cara pemasaran yang tepat
W3 Market positioning 0.10 3 0.30 Hanya menyasar kalangan menengah ke atas saja, membatasi ruang gerak
W4 Konsep dan desain proyek yang sama 0.05 1 0.05 Karakter konsumen tiap negara
untuk setiap negara berbeda-beda
W5 Specialized in landed house only 0.03 2 0.06 Konsumen tidak memiliki banyak
pilihan

Total 1.00 3.00

External Factor Analysis Summary (EFAS)

External Strategic Factors Weight Rating Weighted Score Comments
Opportunities
O1 Perkembangan ekonomi Asia 0.12 3 0.36 Pertumbuhan ekonomi China, Vietnam, dan India yang tinggi
turut meningkatkan permintaan akan properti
O2 Insentif dan keringanan pajak 0.11 4 0.44 Meningkatkan daya saing produk khususnya dari segi harga dari pemerintah setempat sehingga memudahkan konsumen untuk membelinya
O3 Jumlah penduduk 0.04 2 0.08 Market share yang masih sangat besar di China dan India
O4 Tren pertumbuhan properti 0.08 3 0.24 Negara tujuan merupakan negara berkembang yang sangat gencar ambisius untuk membangun megaproyek fenomenal
O5 Demand pasar yang besar 0.10 3 0.30 Permintaan akan proyek luxury yang tinggi tetapi supply masih sangat sedikit (tidak banyak pilihan yang tersedia)

Threats
T1 Kompetitor internasional 0.10 3 0.30 Pengembang asal China, Malaysia, dan Singapura sangat agresif dalam menggarap pasar Asia dengan konsep yang matang
T2 Regulasi hak milik asing dan HGB 0.10 2 0.20 Menurunkan minat investor asing untuk membeli properti di negara bersangkutan
T3 Penolakan masyarakat lokal 0.07 1 0.07 Isu sosial dan penolakan warga lokal karena pembangunan menyebabkan polusi lingkungan dan kebisingan
T4 Kenaikan harga pangan dan BBM 0.13 4 0.52 Mempengaruhi daya beli dan prioritas kebutuhan konsumen
T5 Tingkat suku bunga 0.15 4 0.60 Menghambat pembelian secara kredit dan meningkatkan biaya bunga modal

Total 1.00 3.11

Strategic Factor Analysis Summary (SFAS)

Weighted InterKey Strategic Factors Weight Rating Score Short mediate Long Comments

S1 Manajemen yang berpengalaman 0.10 3 0.30 x Pengetahuan dan pengalaman
S2 Reputasi perusahaan 0.12 4 0.48 x Dikenal luas dan telah diakui di Asia
S5 Joint venture dengan mitra bisnis dan 0.10 4 0.40 x Modal kerja, akses dan perizinan, dan pemerintah setempat pembagian resiko
W1 Harga jual 0.10 4 0.40 xx Mahal untuk negara berkembang
W2 Biaya periklanan dan promosi 0.06 3 0.18 x Media pemasaran yang efisien dan efektif
O1 Perkembangan ekonomi Asia 0.11 3 0.33 xx Pertumbuhan ekonomi "raksasa Asia" yang mendekati angka dua digit (khusus China melampaui)
O2 Insentif dan keringanan pajak 0.13 4 0.52 x Nilai tambah produk dari pemerintah setempat
T4 Kenaikan harga pangan dan BBM 0.13 4 0.52 x x Mempengaruhi daya beli
T5 Tingkat suku bunga 0.15 4 0.60 x x Menghambat penjualan secara kredit dan biayabunga modal

Total 1.00 3.73

Rating yang digunakan: 1 = kurang berpengaruh .2 = cukup berpengaruh. 3 = berpengaruh .4 = sangat berpengaruh

SWOT Matrix Internal Factors(IFAS)

ExternalFactors (EFAS)

1. Strenghts (S)

S1 Manajemen yang berpengalaman
S2 Reputasi perusahaan
S3 Responsif terhadap kondisi pasar
S4 Penjualan secara inden (prajual)
S5 Joint Venture dengan mitra bisnis dan pemerintah setempat

2. Weaknesses (W)

W1 Harga jual
W2 Biaya periklanan dan promosi
W3 Market positioning
W4 Konsep dan desain proyek yang sama untuk setiap negara
W5 Specialized in landed house only

3. Opportunities (O)

O1 Perkembangan ekonomi Asia
O2 Insentif dan keringanan pajak dari pemerintah setempat
O3 Jumlah penduduk
O4 Tren pertumbuhan properti yang gencar
O5 Demand pasar yang besar

SO Strategies :

- Mengsinergikan keunggulan dari mitra bisnis dengan pengetahuan manajemen dan reputasi perusahaan untuk meningkatkan produktivitas
- Melalui reputasi, pengalaman, dan konsep unik yang dimiliki, perusahaan dapat berekspansi ke new emerging country seperti Eropa Timur dan Asia Pasifik

WO Strategies :

- Tingkatkan portfolio dan variasi produk
- Meningkatkan program training and development agar SDM-nya semakin kreatif dan inovatif menciptakan produk yang sesuai dengan selera konsumen dan tren pasar

Threats (T)

T1 Kompetitor internasional
T2 Regulasi hak milik asing dan HGB
T3 Penolakan masyarakat lokal
T4 Kenaikan harga pangan dan BBM
T5 Tingkat suku bunga

ST Strategies :

- Menggandeng kompetitor agar mengurangi pesaing dan memperoleh pengetahuan baru dari kompetitor
- Mulai membawa perusahaan untuk go public agar memperoleh dana untuk mengembangkan bisnis dan meningkatkan kepercayaan publik

WT Strategies :

- Menetapkan harga yang terjangkau dengan tetap mempertahankan kualitas
- Mencari cara pemasaran yang efisien dan efektif
- Desain baru yang inovatif dan mengikuti tren pasar

2. Permasalahan dan Potensi Masalah

Sejumlah proyek dan mega proyek prestisius telah dibangun oleh Ciputra melalui perusahaannya, yaitu PT Pembangunan Jaya, Metropolitan City, dan Ciputra Group, sejumlah bangunan yang telah dibangun antara lain: super block, perumahan, perkantoran, mal, hotel, apartemen, tempat ibadah, lapangan golf, resor, dan lain-lain. Sejak tahun 2003 industri properti mengalami booming dan puncaknya terjadi pada tahun 2004. Sejumlah grup yang berkibar tahun 2003 dan 2004 di antaranya adalah Grup Ciputra, Agung Podomoro, Pakuwon Jati, Lippo, Agung Sedayu, Summarecon Agung, Jababeka, Berca, Jan Darmadi, Gapura Prima, Duta Pertiwi, Bangun Cipta Sarana, dan sebagainya. Proyek-proyek para pelaku utama itu umumnya bertebaran di Jabotabek, Bandung, Surabaya, Medan, dan Makassar. Hal ini dikarenakan faktor tingkat suku bunga yang cukup rendah sehingga meningkatkan daya beli masyarakat dan pertumbuhan industri yang cukup signifikan sehingga memerlukan gedung-gedung baru baik untuk perkantoran, hotel, pabrik, hingga tempat tinggal dan fasilitas publik lainnya. Persaingan di antara sesama pengembang besar tentu saja tidak terelakkan lagi. Hal yang menarik diamati, "pertarungan" merebut pasar properti antar para pemain besar itu akhirnya memunculkan label untuk para pemain itu. Ciputra misalnya, mempunyai megaproyek di sektor perumahan (landed house) di beberapa kota, kondominium, perhotelan, sentra permukiman, dan super block. Trihatma Haliman dari Agung Podomoro amat tangguh di sektor apartemen/kondominium. Proyek Trihatma di antaranya adalah Pakubuwono, The Peak, Sudirman Park, dan apartemen-apartemen dengan label Mediterania. PT Duta Pertiwi muncul dengan label perumahan dan trade center. Proyek-proyek yang dikerjakan di antaranya adalah ITC Mangga Dua, ITC Roxy Mas, ITC Fatmawati, ITC Permata, Bumi Serpong Damai, dan sebagainya. Summarecon Agung, grup usaha yang dipimpin Sucipto Nagaria juga meraih sukses amat besar. Apartemen, pusat perbelanjaan (misalnya Mal Kelapa Gading) dan perumahan Kelapa Gading, dan Gading Serpong. Grup Pakuwon Jati yang dipimpin Alex dan Melinda Tedja juga meraih sukses besar. Proyek Pakuwon di Surabaya dan Jakarta mendapat sambutan besar pasar. Lihatlah misalnya proyek Plaza Tunjungan (sampai empat tahap), kondominium, Laguna Indah, Supermal, Pakuwon Trade Center, Blok M Plaza, dan Somerset Pakuwon Berlian. Kerasnya persaingan di industri properti tentu saja memaksa para pengembang untuk terus melakukan perbaikan dan menciptakan inovasi dan perubahan yang memberikan nilai tambah bagi proyek yang digarapnya sehingga memberikan kepuasan tersendiri bagi konsumen dan mendapat kepercayaan publik. Di tengah isu pemanasan global dan kerusakan lingkungan yang secara langsung memberikan dampak pada industri ini menyebabkan hanya developer yang menghadirkan proyek berkualitas yang dapat bertahan. Di tengah krisis ekonomi global yang disebabkan oleh resesi dan perlambatan ekonomi Amerika Serikat karena kasus subprime mortgage yang juga menyebabkan turunnya kepercayaan pasar di sektor properti, inflasi yang tinggi, fluktuasi suku bunga bank sentral, kenaikan harga bahan bakar minyak dan bahan pangan menyebabkan industri properti menghadapi sejumlah tantangan dan hambatan terutama turunnya daya beli masyarakat domestik sehingga pengembang harus mencari jalan keluar baru untuk tetap dapat bertahan dan mengembangkan bisnisnya. Langkah-langkah yang cepat dan tepat harus segera dilakukan sebelum peluang direbut oleh kompetitor lainnya. Salah satu langkah yang dilakukan Ciputra Group yaitu menggarap peluang dan pasar potensial baru di luar negeri. Strategi ini akan menyebabkan perubahan status Ciputra Group menjadi Multinational Corporation. Ekspansi ke luar negeri diduga kuat merupakan langkah Ciputra Group untuk mencari pendapatan baru di luar negeri karena ketatnya persaingan properti domestik sehingga mengurangi “porsi kue” dan menggerus marjin domestik Ciputra Group disamping semakin mahal dan sedikit tanah di kota-kota besar yang tersedia untuk dibangun khusunya di pulau Jawa. Disini akan dibahas bagaimana Ciputra Group for Overseas Project (CGOP) mengibarkan bendera Ciputra Group di luar negeri. Ekspansi di luar negeri telah dilakukan oleh Ciputra Group melalui salah satu unit bisnisnya yaitu Ciputra Group for Overseas Project (CGOP) yang mengandalkan konsep township development dan mixed used, Ciputra Group menghadirkan beberapa megaproyek yang telah berhasil ataupun yang sedang dibangun, seperti di Vietnam (Ciputra Hanoi International City), Kamboja (Grand Phnom Penh International City), dan India (Kolkata West International City). Untuk kedepannya Ciputra Group akan menggarap negara-negara lainnya antara lain di China (Sanghai, Wohan, propinsi Guangxi, dan Nanjing), Timur Tengah (Pakistan dan Qatar), dan Polandia. Di tengah sejumlah rencana dan proyek ambisius di luar negeri yang sedang maupun yang akan dilaksanakan, Ciputra Group harus mampu menganalisa segala kekuatan, kelemahan, peluang, maupun lingkungan perusahaan. Dengan menggunakan hasil analisa tersebut diharapkan Ciputra Group akan dapat mengoptimalkan kekuatannya, meminimalkan atau mengeliminasi kelemahan, mampu mengelola resiko serta hambatan/tantangan, dan memaksimalkan setiap peluang yang ada. Selain itu perusahaan juga harus dapat memahami keinginan dan kebutuhan konsumen dengan menggunakan teknik analisa outside-in. Hal ini bertujuan untuk mengenal karakter konsumen yang berbeda-beda di setiap negara sehingga perusahaan dapat menghadirkan produk yang tepat dan dapat diterima oleh konsumen mancanegaranya. Dengan melakukan langkah-langkah tersebut perusahaan akan memperoleh reputasi yang baik dari stakeholders sehingga mempermudah akses untuk proyek-proyek selanjutnya. Perusahaan juga harus mempertimbangkan perbedaan budaya, regulasi, dan peraturan yang mungkin berbeda-beda di setiap negara, seperti perpajakan, hak kepemilikan, tata cara periklanan, tanggung jawab sosial kepada publik, hingga aturan local content.